Laman

Ini Tentang Dunia Kita, Dunia Antara Kau dan Aku

Dengan asma sang kekasih

Selasa, 06 April 2010

tentang seseorang..

Aku dulu pernah berharap dan merelakan seluruh hatiku padanya, bahkan akupun rela untuk tidak menyisakan tempat dihatiku kecuali untuknya dan Tuhan. Sekian lama semua ini berjalan dan dia sedemikian menyiksaku dengan seluruh pesonanya yang menghadirkan sejuta rasa yang sedemikian berkelindan dan sangat sulit untuk kemengerti. Dia selalu hadir dalam seluruh detik yang berlalu, hadir dengan kerinduan yang menggilakan. Kadang ingin kubenci dia dengan seluruh kebencianku tetapi aku tak sanggup melakukannya, sebab rasa cintaku padanya jauh lebih besar daripada kebencianku. Ingin kumaki dia dengan seluruh kosa kata cacian yang kumiliki tetapi dia terlalu suci untuk menerima semua makian.

Kata orang aku telah jatuh cinta, tetapi aku tak mengerti, sebab aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Semua ini sedemikian menggilakan dan aku hampir putus asa untuk mengendalikan semuanya, mengendalikan agar aku tak dikuasai perasaan ini, agar aku bisa mengendalikan diri dari hal-hal bodoh yang mungkin kulakukan. Tetapi aku tak sanggup, aku hanyalah seorang wanita yang lemah, aku begitu tampak tolol dan bodoh. Aku selalu mencuri perhatiannya, aku selalu memperhatikannya sedemikian rupa dan hal-hal bodoh lainnya yang hanya menunjukkan ketidakberdayaanku sebagai perempuan. Aku benci dia, aku benci memiliki perasaan itu, meski kutemukan keindahan didalamnya.

Dia hadir disela hari-hari yang kulalui, diantara tumpukan mimpi dan obsesiku. Dan kemudian ia menjadi salah satu obsesiku. Aku ingin memilikinya!! Ah, ini gila! Aku tak pernah memiliki keinginan untuk memiliki orang lain, bahkan aku mulai mencemburuinya saat kulihat ia bersama perempuan lain, atau ketika ia ngomongin perempuan lain. Dan lagi-lagi aku harus mengendalikan semua perasaanku, aku tak ingin ia membenciku karena seluruh perasaan yang kumiliki, aku tak ingin menghancurkan kedekatanku dengannya dengan semua yang kurasakan dalam dadaku. Aku cukup berhasil mengendalikan diri, lalu aku mulai belajar sedikit-demi sedikit membencinya dan mengusirnya dari tempat yang telah kusediakan untuknya. Tetapi semakin lama aku berusaha melupakan dan membencinya, perasaan cintaku sedemikian besar dan hampir sulit kukendalikan.

Hal-hal biasa yang dilakukannya menjadi sedemikian istimewa dimataku, dan ia menjelma menjadi sosok yang teramat sempurna, meskipun aku sadar tidak ada yang sempurna di dunia ini, semua kesalahan kecil yang dilakukannya tidak membuatku membencinya, aku cukup bisa memakluminya hanya dengan satu kalimat “namanya juga manusia”. Aku selalu luruh oleh senyum manisnya, bening matanya dan sikap baiknya, dan dia teramat baik memperlakukan aku meski kadang-kadang ia sangat menyebalkan.


Seumur hidupku belum pernah aku memperhatikan dan menyayangi seseorang sedemikian rupa, dan itu cukup menyusahkanku meski aku sangat senang melakukannya. Menyusahkan karena aku harus menyembunyikan seluruh perasaanku dan apa yang aku rasakan agar dia dan orang-orang disekelilingku tak tahu kalau aku teramat mencintainya. Aku tak ingin dia atau orang-orang tahu kalau aku sangat menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Meski aku sadar, dia tahu betul apa yang kurasakan dan aku pun tahu bagaimana perasaannya terhadapku.

Aku betul-betul tak sanggup menyimpan rahasia perasaanku, ketika seorang teman yang sangat kupercaya bersedia menyimpan rahasiaku, aku pun dengan senang menceritakan semuanya, ya! Semuanya!! Dan tak pernah terbersit sedetik pun kalau dia (sahabatku itu) akan mengkhianatiku dan menceritakan semuanya padanya dengan cara yang sangat sangat kampungan! Dan itu memalukan, sangat memalukan!!. Seumur hidupku takkan pernah bisa kulupakan kejadian itu. Tetapi anehnya dia tak membenciku, Ia tak pernah memberikan reaksi, ia tetap menjadi seperti ia sebagaimana adanya, meskipun kejadian itu bisa menghancurkan reputasinya dan sangat memalukan baginya (dan bagiku). Ia membiarkan semua yang terjadi sebagimana adanya. Dia hanya membalas perlakuan sahabatku dengan “jadian”dengan temanku sendiri, meski ia pernah mengatakan tak pernah bersungguh-sungguh tetapi itu sangat menyakitkan bagiku, apalagi ketika aku sering melihatnya berdua, ia selalu bersama dalam segala keadaan.

Perlu waktu lama bagiku untuk menyadari inilah takdir yang harus kuterima, dan ini adalah takdir yang Tuhan berikan untuk mengujiku, makanya dengan rela kumaafkan dia (sahabatku) atas perlakuannya, dan aku tak pernah membencinya sebab ia memiliki niat yang baik (pada awalnya) meskipun pada kenyataannya menghancurkan kedekatan dan pertemanku dengannya. Biarlah kurasakan derita mencinta dengan mencintainya sebab akhirnya aku menemukan cinta-Nya dari mencintainya. Kurasakan Tuhan begitu dekat dan hadir dalam berbagai keadaan. Kurasakan betapa Tuhan sangat menyayangiku.

Waktu akhirnya merenggutnya dariku dan entahlah, aku senang perpisahan membawanya pergi dariku setidaknya aku takkan melihat dia bersama ceweknya lagi, dan aku akan terbebas dari kenangan memalukan dengan tak melihatnya, tetapi aku juga sedih, aku takkan lagi menikmati keindahan sikap dan tutur katanya, aku tak lagi bisa menikmati bening mata dan ketenangan yang ditawarkannya, aku tak lagi bisa melihat keagungan pribadinya, aku tak lagi bisa menikmati tawa, canda, dan senyumannya, aku takkan bisa lagi bertemu dengan sosok dan kesederhanaannya, ya semua telah berlalu dalam waktu. Kurasakan betapa rapuhnya aku kala ia pergi, rasanya separuh hatiku telah hilang saat ia melangkah, ia telah membawa separuh hatiku meninggalkan airmata dan kesedihan. Ia pergi tanpa mengucap sepatah atau dua patah kalimat perpisahan atau sekedar ucapan selamat tinggal. Hanya sebuah senyuman yang ia berikan, senyum yang takkan mungkin lagi kunikmati. Ia pergi membawa semuanya, seluruh perasaanku. Aku kemudian sadar, cinta sejati tak selamanya harus dimiliki, ya aku telah cukup memilikinya dari kejauhan dan aku sudah cukup bahagia dengan mencintainya dari kejauhan, aku sudah cukup senang dengan kedekatan dalam kejauhan.

Sejak ia pergi, aku tak pernah memberikan hatiku pada oranglain, dan tak pernah ada keinginan untuk menggantikannya dari hatiku, pun tak pernah merelakan oranglain menempati tempat yang telah ia tinggalkan. Aku tak lagi berhasrat pada siapapun, aku bahkan pernah berniat menjalani langkah sunyi dimana hanya ada aku dan Tuhan. Dan berharap Tuhan tak menghadirkan perasaan semacam itu lagi terhadapku karena aku telah merasakan betapa sakitnya derita mencinta. Aku telah sangat menderita dengan mencintainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuukk di komen-komen yaa...