Laman

Ini Tentang Dunia Kita, Dunia Antara Kau dan Aku

Dengan asma sang kekasih

Minggu, 12 Desember 2010

luka

Engkau menaburi garam di ladang luka
Menyisakan perih tanpa airmata
Mengiris jiwa
Menghempas rasa

Pedih….
Tak sanggup walau sekedar bersuara
Hanya kebencian di rongga dada
Pada waktu yang selalu menyisakan pilu
Pada malam yang selalu menyanyikan sunyi
Dalam diam kudendangkan dendam
Mengubur harapan di malam gulita

Tak percaya pada kata-kata yang dihembuskan angin
Pada nyanyian rindu rembulan
Tidak!
Bahkan pada cahaya bintang
Yang tersisa hanya kebencian…
Hanya kegelapan yang tak berujung
walau disinari ribuan cahaya kejora
gelap…
sunyi
kelam
semua menjadi tak bermakna
dan aku menjadi terbiasa….

dipersimpangan arah

Seperti biasa..
Kita terasing di persimpangan masa
Menjadi saling tak mengenal
Atau pura-pura lupa
Pada kenangan yang kita ciptakan

Terasing
Tak acuh
Sunyi
Berpisah tanpa sempat saling mengucap salam

Berat melangkah
Seperti enggan untuk berpisah
Namun tak mungkin memaksakan untuk bersama
melaju ke arah yang berlawanan
Engkau ke barat aku ke timur
Engkau ke utara aku ke selatan
Itulah pilihan
Jadi mungkin sampai disini kita
Dipersimpangan arah
Selamat tinggal…

Kamis, 09 Desember 2010

Hafiz 2

Tawamu, penawar segala resah hatiku
Senyummu penyejuk segala gundahku
Kata-katamu, celotehmu semua adalah obat mujarab setiap kepedihanku
Padamu aku menitip harapan
Esok , ketika mentari menyapa hari
Aku masih bisa melihat keceriaanmu
Aku masih bisa mendekapmu dengan seluruh rasaku
Aku ingin selalu ada disisimu
Meraih seluruh hatimu
Menyimpannya bersama bintang-bintang
Kau bintang dihatiku
Yang bersinar paling terang
Memberi cahaya saat gulita
Lukisan terindah dalam kanvas kehidupan
Tetaplah disini, disisiku
Aku akan menjagamu, semampu yang bisa kulakukan
Mari lalui hari-hari kita bersama
Tanpa airmata
Karena senyummu memberiku seluruh isi dunia
Dan tak ingin yang lain selain dirimu..
Mutiara kecilku…

Kata

Setiap kata yang kau ucapkan
Terekam jelas dalam ingatan
Meski waktu seringkali ingin menghapusnya
Setiap jejak kata-kata yang terlontarkan

Makian, serapah semua hanya tragedi
Dari mulut yang tak tahu diri
Kata orang lidah tak bertulang
Dan Kita harus pandai menjaga lisan

Diam adalah jawaban terbaik
Dibanding harus mengucap kata-kata yang tak kita inginkan
Sakit dibadan bisa disembuhkan
Sakit dihati kemana harus mencari penawarnya

Kawan…
Berhati-hatilah menjaga lisan…

Menunggu

Aku masih disini
Menunggumu berhenti menangisi waktu di jagat sunyi
Mari kita rekatkan kepingan kepedihan
Dengan lem waktu yang berlalu
Agar keceriaan menjadi wujud yang sempurna

Saat ini..
Kebahagiaan mungkin belum berpihak
Keberuntungan mungkin belum menghampiri
Tapi kita masih memiliki harapan
Untuk mewujudkan

Dan aku..
Disini menemanimu
Mewujudkan mimpimu

Di pantai ini

Ditepi pantai ini
Selalu ku ingat jejak-jejak yang kita tinggalkan
Selalu kutuliskan namamu dihamparan pasir
Meski ombak selalu datang tuk menghapusnya

Dipantai ini aku pernah menitip harapan
Pada camar yang terbang diatas gelombang
Menyampaikan pesan untuk kau baca
Berharap kau datang secepat angin menggiring ombak ketepian

Dipantai ini
Aku menyimpan kenangan
Menuliskan seluruh perasaanku di kedalaman lautan
Memahat namamu diantara karang
Mengukir kisah kita dengan kepedihan

Dipantai ini
Hanya ada namaku dan namamu
Hanya ada kisah kita..
Hanya kita…..

Tahukah engkau…

Tahukah engkau
Aku pernah menitip rindu
Pada awan yang berarak menghampirimu
Menyampaikan harapan agar kau datang
Di ujung penantian

Tahukah engkau
Aku pernah menitip pesan
Pada semilir angin yang berbisik ditelingamu
Berharap kau mendengar
Setiap kata yang ku ucapkan

Tahukah engkau
Aku pernah merindumu dengan segenap perasaanku…

Aku ingin melupakan kenangan

aku ingin melupakan kenangan
Diantara ruang-ruang kosong hati
Agar tak menyisakan hampa
Yang mengiris bagai belati

Ingin kuganti lagu sunyi itu
Dengan irama riang
Yang dapat kudendangkan setiap hari
Dengan melodi yang tak lagi menyayat hati

Aku ingin melupakan kenangan
Yang tak mau beranjak dalam ingatan
Karena kehidupan harus tetap berjalan
Dan ku tak ingin ada kepedihan

Aku akan melupakan..
Aku bisa melepaskan
Aku mampu melanjutkan
Tanpa kesedihan….

Kamis, 02 Desember 2010

mampukah

Mampukah kita bertahan
Diatas kepingan luka yang selalu tersiram cuka
Puing-puing kepedihan
Menjadi serpihan dendam
Membara..
Merobek ketulusan
Menuai kebencian
Jiwaku terpuruk dalam takdir
Meraih harapan dalam gulita
Mengeja nama Tuhan sebagai kekuatan
“Rabbi, jangan tinggalkan hamba dalam kelam….”

segalanya pasti berakhir..

Pada akhirnya kita akan pergi
Meninggalkan kehidupan
Mengapa harus takut dengan perpisahan?
Bukan itu pasti?
Harapku semua takkan terjadi
Tapi jika Tuhan mentakdirkan apa hendak kita kata
Nasib mungkin tak sebaik impian
Cerita kita berlalu,
Pedih
Sakit
Luka
Benci
Dendam
Dan rasa lainnya yang entah apa
Semua kita hadapi dengan lapang
Perpisahan hanyalah soal waktu
Segala yang berawal pasti berakhir..

catatan

Aku ingin membuka kembali
Catatan usang yang tlah kita tinggalkan
Merekam ulang kenangan
Dalam memori ingatan yang terbatas
Jangan tinggalkan buku itu
Meski usang dan berdebu
Disana kita menyimpan harapan
Pada waktu yang trus berlalu
Sekali-kali cobalah kau tengok
Dicatatan itu tlah kutuliskan
Harapan dan mimpi yang sempat kau janjikan
Dicatatan itu aku menyimpan kenangan, kebahagian pun kepedihan
Bacalah saat hatimu hendak menjauh
Mencari pelabuhan lain melepas sauh
Bacalah sebelum kau berlalu….