Laman

Ini Tentang Dunia Kita, Dunia Antara Kau dan Aku

Dengan asma sang kekasih

Selasa, 24 Mei 2011

Ajari Aku Cara Melupakanmu

Kenapa kamu menghantuiku?tak bisakah kamu pergi dari hidupku sedetik saja, membiarkanku menikmati pagi dengan kesunyian, dengan rasa tenang tanpa gangguan. Aah.. gila memang, hatiku tak mampu melupakanmu, padahal aku telah menguburmu di kedalaman batinku, kau selalu saja muncul ke permukaan dengan keindahan semu. Tak cukupkah aku membawamu kehadapan Sang Kekasih? mengeja namamu dalam lipatan-lipatan doa yang senantiasa ku haturkan?

Aku ingin kau pergi dari hidupku, dari anganku. Ajari aku cara melupakanmu, jiwamu berkeliaran di relung hatiku, memberi segar mawar di pagi hari, memberi kekuatan untuk terbang mengitari bumi namun kau menjebakku, menahan langkahku tuk menjejak tanah. Jadi kumohon, pergilah..aku ingin menginjak bumi, menerima kenyataan dengan lapang dada.

Menunggu

(gambar diambil dari http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com)

Kehidupan hanyalah ulangan waktu
Senin sampai minggu selalu begitu
Januari sampai Desember berlalu
Membentuk lipatan-lipatan zaman yang bisu

Aku masih menunggu, sebagaimana pagi yang selalu menanti
Sinar mentari memberi kehangatan bumi
Selalu
Bahkan bila awan menghalangi kehangatannya
Pagi masih tetap setia

Disini, dihatiku tak ada sebentuk ragu
Meski kau membelenggu pilu
Kamu hanya satu
Yang aku tunggu

Senin, 23 Mei 2011

Lelaki di ujung telepon..

"apakah kamu bahagia" tanyamu di ujung telepon pada suatu dini hari.
"Memangnya peduli apa kamu tentang kebahagiaanku?" Jawabku sengit. Pantaskah dia mempertanyakan kebahagiaanku, sedang diapun memberi kepedihan.
"aku hanya ingin tahu saja, apakah kamu baik-baik saja?" Dasar lelaki sinting! Apakah aku akan baik-baik saja ketika dia meninggalkanku dalam lembah tak bertuan, memberi lara saat pucuk-pucuk cinta mekar merekah, memberi keindahan pagi hari. Apakah aku baik-baik saja ketika dia meninggalkanku dalam hening demi perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari.
"aku baik-baik saja, dengan atau tanpamu, hidupku selalu berjalan"
"aku menyesal, kamu yang terbaik"
"maaf aku tak punya waktu untuk mendengar sebuah penyesalan"
"please, aku hanya ingin kamu beri kesempatan" What?kesempatan apa? aku bahkan tak pernah berharap untuk bertemu lagi dengannya. "aku tau, kamu masih mencintaiku"
"lalu kenapa? apa urusan kamu?"
"aku bisa bikin kamu bahagia" Aduh lelaki ini begitu Percaya diri.
"aku memang masih mencintaimu, tapi kamu bukan satu-satunya kebahagiaan, maaf!" klik..tuuuut..tuuuut...

Kamis, 19 Mei 2011

Perjanjian dan Praktek Kenotariatan

Menurut Pasal 1313 Kitab Undang-undang Hukum Perdata perjanjian atau kontrak adalah suatu peristiwa di mana seorang atau satu pihak berjanji kepada seorang atau pihak lain atau di mana dua orang atau dua pihak itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Perjanjian atau seringkali disebut kontrak dapat dilakukan berdasarkan keinginan pihak-pihak yang melakukan perjanjian.

Syarat Sahnya Perjanjian menurut Pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgelijke Wetboek)adalah :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian;
3. Mengenai suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal;

Perlu diketahui, bahwa syarat No 1 dan 2 merupakan syarat subyektif yang apabila tidak terpenuhi maka Perjanjian dapat dibatalkan dan syarat No. 3 dan 4 merupakan syarat obyektif yang apabila tidak terpenuhi maka Perjanjian batal demi hukum

Dalam praktek perjanjian terdiri dari 2 jenis yaitu Perjanjian yang dibuat secara Notaril dan yang dibuat secara dibawah tangan. Perjanjian Notaril adalah perjanjian yang dibuat dan dibacakan oleh Notaris sedangkan perjanjian dibawah tangan adalah perjanjian yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang membuat perjanjian tanpa melibatkan Notaris. Agar perjanjian dibawah tangan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan akta yang dibuatkan oleh Notaris (perjanjian yang dibuat secara Notaril) dapat dikuatkan oleh Notaris dengan cara dibukukan (waarmerking) dan di sahkan (legalisasi). Notaris akan membuatkan perjanjian atas permintaan orang yang datang untuk menggunakan jasa notaris.

Praktek pembuatan kontrak/perjanjian dapat dilaksanakan jika para pihak telah setuju dengan klausul-klausul yang ada dalam kontrak tersebut. Klausul-klausul tersebut akan mengingat para pihak sehingga pihak-pihak yang membuat perjanjian tidak akan dapat memungkirinya dikemudian hari.

untuk membuat suatu perjanjian di Notaris pihak-pihak harus menyertakan beberapa persyaratan diantaranya Kartu Tanda Penduduk, Akta Nikah, Akta Kelahiran, Objek yang diperjanjikan, dan persyaratan-persyaratan lainnya yang berhubungan dengan kontrak atau perjanjian tersebut. Seorang Notaris tidak memiliki kewenangan untuk melakukan cek materil atas semua dokumen persyaratan yang diberikan kepada Notaris dalam rangka pembuatan perjanjian tersebut.

Untuk pembuatan suatu perjanjian hal yang harus selalu ada adalah materai (bea materai). Perjanjian dianggap sah dan mempunyai kekuatan hukum jika ditandatangani oleh para pihak diatas kertas (blanko akta) yang telah dibubuhi oleh materai.

Perjanjian pada umumnya tidak hanya berupa akta-akta yang dibuat oleh Notaris tetapi terdapat pula akta akta yang dibuat oleh PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah). Tidak seperti akta notaril dimana perjanjian dibuatkan dalam lembaran kertas A 3 atau kertas segel, Akta PPAT telah dibuat dalam bentuk blanko yang dikeluarkan oleh Perum Percetakan Negara, untuk memperolehnya seorang PPAT dapat mengajukan permohonan kepada Kantor Badan Pertanahan setempat (menurut wilayah kerja PPAT tersebut). Akta PPAT ada 2 macam yaitu:
1. Akta peralihan diantaranya Akta Jual Beli, Hibah, Pembagian Hak Bersama
2. Akta Pembebanan adalah Akta Pembebanan Hak Tanggungan dan Surat Kuasa
Membebankan Hak Tanggungan.

Meskipun Akta PPAT berbentuk blanko dengan klausul-klausul yang tetap sebagaimana yang tercantum dalam blanko akta, tapi tidak menutup kemungkinan klausul-klausul tersebut ditambahkan berdasarkan kesepakatan para pihak.

Aku Kangen


Sudah berapa lama kita tak bertemu? serasa telah berbulan-bulan, padahal baru bilangan hari. Begitulah, rasa ini sungguh menggoda, menggelitik ke ujung jiwa, aku rindu, seperti anak kecil yang tak sanggup kehilangan ibu.

Kau teramat berarti untukku, menyimpan segala resahku, memberi damai saat disisimu. Didekatmu aku merasa tenang, bahkan saat aku mulai merasa dewasa, mulai merasa sanggup memutuskan banyak hal dalam hidup tanpa bantuanmu. Ah, aku merasa teramat sombong, seakan-akan mampu melakukan segalanya tanpamu, padahal nyatanya tidak, aku tetap memerlukanmu, aku tetap membutuhkanmu. Kau pelindungku, kau ibu peri yang selalu sanggup memberi seluruh permohonanku.

Sungguh tak berperi seluruh rasa ini, sekian lama aku jauh darimu, kau selalu memiliki waktu untuk menengok, menanyakan kabarku, sedang aku? melupakanmu dalam bahagiaku, mencarimu dalam sedihku. ah Ibu, maafkan anakmu yang tak tahu diri ini. Tapi hari ini sungguh aku rindu di dekatmu.

Tengoklah Hatimu

Sedari dulu, hal yang paling melekat pada diri perempuan adalah penghayatan atas kehidupan, cinta, masa lalu dan pemahaman atas diri sendiri. Dalam perjalanan kehidupan, aku merasa aku telah meninggalkan diriku, menyesuaikan diri dengan lingkungan, tunduk pada kepura-puraan. Jangan kau kira mudah bagiku untuk melepaskan kepribadian dan berpura-pura, dari dalam lubuk hatiku ada sesuatu yang memberontak, seumpama magma yang menunggu waktu untuk meletus, siap memuntahkan seluruh isi yang terkandung dalam perut bumi. Kepura-puraan ini menyakitkan, dan ketika kita mengetahui, menyadari bahwa kita telah menjadi pribadi yang berbeda, perasaan itu bagai mengiris jiwa. Aku ingin melepaskan topeng ini, tapi terkadang merasa takut, aku tidak siap menerima reaksi yang berlebihan. Aku menjadi gamang, menjadi diri sendiri atau tetap berpura-pura demi kebahagiaan orang lain?

Entahlah, sampai saat ini aku belum memutuskan. Mungkin tetap menjalani karakter yang sekarang. Hidup kadangkala memberi kita pilihan yang sulit. Terlebih ketika kita harus mempertimbangkan pendapat oranglain. Belajar mendengar yang oranglain perbincangan tentang diri kita. Jika pilihan ini adalah yang bisa membuat orang di sekeliling bahagia, mungkin inilah jalan yang ku pilih. Inilah pilihanku.


"Dan kelak, ketika banyak jalan terbentang dihadapan kita dan kita tak tahu jalan mana yang harus kita ambil, janganlah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia, jangan biarkan apapun mengalihkan parhatianmu, tunggulah, tunggulah lebih lama lagi. Berdiam diri, tetap hening, dan dengarlah hatimu, lalu ketika hati bicara, beranjaklah, dan pergilah kemana hatimu membawa " (va dove ti porta il euroe - Susana Tamaro).

ya.. pergilah kemana hatimu menuntunmu. Ketika kita tak mampu untuk memutuskan sesuatu hal dalam hidup, maka bertanya pada hati kita mungkin memberikan salah satu solusi. Setidaknya satu kekuatan untuk memutuskan.

Pergilah kemana hatimu membawa....

sepercik harapan di pagi hari

Apa yang kamu pikirkan tentang kehidupan yang lebih baik? memutus harapan seseorang, menguncinya dalam keangkuhan atau membiarkannya mengapung di awang-awang tanpa kepastian, atau membalasnya dengan mendua hati?

Kenyataan kadangkala tak sebaik impian, tapi bukan berarti kita tak memiliki harapan. Hidup harus selalu diperjuangkan. Harus diupayakan, bahkan saat kita merasa tak berdaya, bukankah putus asa adalah salah satu bentuk kufur nikmat?

Sampai sejauh mana kita berusaha? Nampaknya kita belum melakukan tindakan apapun selain melampiaskan rasa marah, mengutuki kehidupan, memprotes takdir, menyangkal beberapa kebaikan Tuhan dan menyesali kehidupan. Kita diam tak beranjak kemana-mana. Ujian yang Tuhan beri belum seberapa dibanding dengan nikmat yang telah kita peroleh.

Tak perlu jauh menengok sampai Palestina atau Afrika, lihatlah tetangga kita, tukang becak tua yang selalu berusaha untuk keluarganya ditengah asma nya yang tak kunjung sembuh. Lihatlah tukang ojek bisu itu, tak peduli hujan menunggu penumpang meski harus berbasah-basah tanpa jas hujan. Lihatlah penghuni gubuk pinggir kali itu, penghuni rmah kardus yang bahkan tak pernah tidur nyenyak karena dingin dan sempit. Tengoklah petani di gubuk tua itu, renta dan bahkan tinggal di gubuk yang mungkin usianya sama tua dengan dirinya. Lihat...lihatlah disekeliling kita, kehidupan begitu kejam, memangsa tanpa belas kasihan.

Lalu kita? mestinya kita bersyukur diberi banyak kemudahan. Diberi banyak kenikmatan dan kesempatan untuk meraih hal-hal yang kita inginkan, dan kita kalah oleh ujian yang tak seberapa, mengurung ego dalam perbedaan, tak maukah kita membuka hati? Kehidupan yang lebih baik adalah saling memperbaiki diri, membuang amarah, melepas ego dan rasa ketersinggungan, lalu memberi pengabdian. Kau memberi hormat dan kasih sayang, maka aku memberi pengabdian, cukup adil bukan?

Selasa, 10 Mei 2011

Bunda

Tak hendak anakmu ini menangisi diri, membagi kepingan kepedihan
Namun airmata ini laksana air hujan
Membanjiri tubuhmu yang rikuh dimakan usia

Semula, hendak kusimpan lara ini di dasar samudera hatiku
Di tempat yang jauh yang tak bisa kau selami,
Namun kau penyelam luar biasa yang aku tahu
Menemukan seonggok luka di kedalaman hati
Menemukan jaring-jaring duka yang tlah terisi ikan-ikan kepedihan yang membusuk
Mati

Bunda,
Tlah kucoba menyembunyikan ribuan kelopak kepedihan di mawar yang kau tanam
Dan berharap kau hanya menemukan mawar indah di pagi hari
Semerbak harumnya menemanimu sepanjang hari
Namun pagi ini kau menemukan satu kelopaknya yang mati, gugur
Meranggas dalam waktu

Bunda,
Janganlah kau menangisi nasib diriku diantara waktu senggangmu,
Ku tak ingin mendengar isak dalam sujudmu
Sungguh,
Jangan kau ratapi anakmu
Tersenyumlah, beri aku kehidupan (lagi)

Bunda,
Maafkan anakmu tak sanggup menyembunyikan apapun darimu
Maaf membuat malam-malammu menjadi singkat

Sungguh ini bukan sesuatu yang ku harapkan..

Bunda..
Satu pelukan beri ku kekuatan

Kamis, 05 Mei 2011

aku ingin bertemu

Aku ingin bertemu untuk sebuah kata yang belum terucapkan
Yang selalu mengunci hati
Sulit kubuka
Meski kuinginkan

Bisakah kita bertemu
Agar malam-malamku menjadi terang meski tanpa gemintang

Apakah kamu punya waktu agar cintaku menemukan jejaknya, tak mengapung diawang awang..

Kumohon, kali ini saja.

*dalam cerita ini R.H, u inspired me :)

Pada mulanya

Pada mulanya kita adalah orang asing yang tak saling mengenal, bahkan enggan untuk sekedar menyebut nama

Pada mulanya hati enggan membukakan pintu, tertutup rapat dalam kebencian, terkunci gembok keangkuhan

Pada mulanya rindu menguap tak menemukan muaranya

Pada mulanya cinta sekedar pelabuhan tempat kapal melepas jangkar, tak bermaksud menetap, hanya untuk mencari air tawar pelepas dahaga setelah lelah mengarungi lautan

pada akhirnya ku tambatkan hatiku di dermaga cintamu, menetap tak ingin lagi berlayar.

Aku dan kamu menjadi kita, hanya kita mengarungi samudera kehidupan.

Rinduku bermuara pada senyummu.

6 mei 2011

Rabu, 04 Mei 2011

Sepotong Pengakuan

Kau tahu merindu itu menyakitkan, menyimpan cinta itu memberi lara
Aku memang bukan pecinta sejati, ada banyak cinta singgah, seperti pelabuhan yang senantiasa didatangi kapal,
Datang dan pergi
Tapi cintaku untukmu mengendap didasar hati


15 tahun sudah penantian
Mencarimu, berpesan lewat semilir angin mengatakan rindu yang aku punya

Kosong. Sepi. Sunyi.

Kini kau didepanku, maukah mendengarkan
Aku mencintaimu, dulu, kini dan nanti
Itu saja
Titik

*thanks to R.H, ceritanya menginspirasi*

Selasa, 03 Mei 2011

suara dari masa lalu

Aku rindu katamu mengukir karang di tepian samudera dengan pahatan kasih sayang, menyusun kepingan puzzle kehidupan ditelapak tangan kita yang mungil. Mentertawakan ombak, Mentertawakan diri sendiri, mentertawakan kehidupan

Aku ingin ujarmu, menikmati petang di pesisir selatan, mengantar mentari pulang, semburat jingganya memberikan kesan romantis, menyeret kesahduan ke bibir pantai.

Suara-suara riang berhamburan dalam ingatan, membawa kerinduan. Aku ingin pulang, samudera itu selalu saja memberi keindahan, semilirnya angin yang berkawan dengan teriknya matahari memberi kesejukan, membawa lambaian nyiur ke daratan, seolah memaksaku untuk datang.

Menemuimu. Haruskah aku?haruskah kita?

Sedang gugusan karang itu tlah hilang di sapu gelombang. Pohon kelapa disana pun tinggal beberapa batang, keindahan yang nampak pudar. Sepudar hatiku. Berhenti berharap. Diam.

Mungkin aku kan datang, suatu saat. Ketika kita tlah mampu menerjemahkan apa yang terpahat dalam Gua Karang Potong, sebuah rahasia yang mungkin hanya aku dan kamu yang tahu. Hanya kita.

kejujuran

Aku tak ingin kepalsuan, begitu katamu tapi mengapa kau memasang wajah angkara saat aku berterusterang? Kata orang kejujuran memang menyakitkan laksana belati yang mengiris nadi, perih. Mungkin mengucurkan luka

Aku tahu, kenapa kebayakan orang lebih menyenangi dusta dan kepura-puraan?karena jujur itu menyakitkan. Membahayakan.

Kini, setelah tirai gelap itu tersingkap, sanggupkah kau menghadapi kenyataan dengan lapang dada?maukah menerima kejujuran dengan tangan terbuka?

Sebab kepura-puraan pun menyakitkan.

Senin, 02 Mei 2011

aku, kamu dan badai

Kita terhempas dilautan lara, yang ombaknya selalu bergulung tiada henti memahat karang kebencian dihati.

Kita tergulung badai, terombang ambing disamudera tak berujung, petir,hujan,gelombang pasang menyandera kita dalam kebisuan.

Selalu. Hidup ini serupa samudera tak berujung, selalu siap menenggelamkan, sedang kita tak pandai berenang. Siapa menolong aku? Siapa membantu kamu?

Bahkan aku dan kamu berebut sekoci menyelamatkan diri sendiri. Sedang kapal hampir karam.

Begitulah berulang-ulang. Mengapa kita tak mempercepat laju saat samudera damai memperlihatkan pesonanya yang anggun kebiru-biruan? mencapai tanah yang dijanjikan bersama-sama.

Mengapa kita menyia-nyiakan kesempatan, sedang samudera tak pernah memberitahu kapan gelombang memporakporandakan kapal?
Mengapa pula tak kau lepaskan aku membawa kapal dengan caraku, apa karena kau nakhoda sedang aku hanya ABK? Atau mungkin kau hendak menyelamatkan diri sendiri, meninggalkanku terperangkap dalam kelamnya samudera?

Entahlah....

Minggu, 01 Mei 2011

senja yang hitam

Mengapa kau lukis senja dengan hitam
Sedang jingga memberi warna lembayung, berkilauan
Memberi keindahan petang
Tak selamanya kepedihan harus kita nikmati dengan airmata
Adakalanya kita harus menikmatinya dengan tertawa
Hei dunia terlalu indah untuk kau isi dengan kepingan luka
Kebahagiaan itu ada dalam diri kita dan
Tuhanlah tempat kita meminta

kegelapan

Melewati malam dengan kegelapan
Sungguh itu bukan hal yang menyenangkan
Gelap bagai raksasa yang memangsa
Gulita, mencekam, menggulung waktu dengan kesunyian

Aku takut kegelapan
Seolah tangan-tangan izrail begitu dekat mencengkram nadi, membawa roh pergi
Sedang bekal belum lagi aku siapkan
Aku takut menghadapi kegelapan kubur
Ruang sempit tanpa penyegar udara
Dipenuhi cacing, ulat, ular mungkin juga kecoa
Binatang melata yang kerapkali membuat jijik, berlari terbirit-birit

Tuhan, aku ketuk pintuMu dan memohon padaMu,
jangan biarkan gelap ini memangsa terlalu lama
Biarlah izrail datang saat tlah kupenuhi catatan hidupku dengan kebaikan

Mohon ampuni segala kesalahan hamba
Amiiin