Laman

Ini Tentang Dunia Kita, Dunia Antara Kau dan Aku

Dengan asma sang kekasih

Sabtu, 10 September 2011

Istri Cerewet

“Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya, tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya.”  

Hari ini tanpa sengaja aku menemukan artikel di salah satu tabloid wanita mengenai istri cerewet, tiba-tiba saja aku menjadi sangat tertarik untuk membacanya, karena aku seorang istri dan (kata suamiku) termasuk istri yang cerewet (padahal menurut beberapa temanku, aku ini masih termasuk ke dalam -cerewet yang wajar-) hehehe..

Perempuan (baca istri) memang memiliki kecenderungan berbicara lebih banyak daripada laki-laki (suami), hal ini terjadi karena perempuan (istri) bertindak mengurusi (mempersiapkan) segala macam keperluan keluarga jadi cerewet bagi seorang istri adalah hal yang wajar (bukan berarti aku mencari pembenaran atas kecerewetanku hehe), hal itu terjadi karena istri menginginkan perubahan yang lebih baik dalam keluarganya. Sebagian besar suami memang sepertinya merasa terganggu dengan kecenderungan cerewet istrinya tanpa mau mencerna lebih lanjut apa maksud dari "kebawelan" istrinya. Perempuan memang memiliki kecenderungan berbicara yang berlebihan, hal ini karena perempuan lebih spontan mengekspresikan perasaannya dibanding dengan laki-laki yang cenderung lebih menahan diri. Perempuan kadang-kadang (jika kesal) seringkali berbicara tanpa henti mengeluarkan seluruh unek-uneknya tanpa melihat situasi apakah suaminya sedang bad mood atau good mood, karena kecenderungan ini sehingga laki-laki (suami) sering menganggap ungkapan kekesalan istrinya sebagai kecerewetannya dan itu sangat mengganggu dirinya .

Ada sebuah Kisah mengenai kebawelan/kecerewetan seorang istri, tentang istri sahabat Nabi Muhammad Saw yaitu istri Umar Bin Khattab:
"Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?
  1.  Benteng Penjaga Api Neraka. Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
  2. Pemelihara Rumah, pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
  3. Penjaga Penampilan, umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.
  4. Pengasuh Anak-anak, suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan, lebih dulu suami yang maju ke depan mengaku, akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
  5. Penyedia Hidangan, pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji".

 Perempuan memiliki kecenderungan yang besar untuk didengar, terkadang jika perempuan menumpahkan isi hatinya, bukan karena dia menyimpan dendam atau kemarahan yang besar, hanya saja ia butuh untuk didengar, ya hanya didengar, itu saja, so simple bukan? dia tidak butuh pendapat atau diskusi-diskusi panjang yang melelahkan, dia hanya menginginkan seseorang yang dengan antusias mau mendengar segala keluh kesahnya, bukan pula segala kesah itu berarti dia tak mensyukuri kehidupannya tapi itu hanyalah ungkapan perasaannya yang spontan.

Menurut penelitian Dr Elaine D. Eaker dan timnya pada Agustus 2007 yang dimuat dalam situs health23, melibatkan 3.682 responden yang terdiri dari laki-laki dan perempuan berusia 40 hingga 50 tahun dengan usia pernikahan di atas 10 tahun terungkap bahwa istri yang cerewet atau bawel memiliki harapan hidup empat kali lipat lebih panjang dibandingkan dengan istri yang pendiam, cenderung menghindari konflik rumah tangga dan introvert. Dr Elaine menyatakan bahwa istri yang pendiam, cenderung menghindari konflik rumah tangga dan introvert ternyata cenderung mengalami gangguan jantung serta penyakit kronis lainnya. Namun sebaliknya, istri yang cerewet dan bawel dan memiliki kecenderungan untuk bebas mengekspresikan pendapatnya, berani menghadapi konflik serta beradu argumen dengan suami terbukti jauh lebih sehat dan memiliki usia hidup lebih panjang. (Naaah lhooo... ayooo pilih yang mana??)

Jika perempuan (istri) cerewet bukan berarti ia membenci suami, anak-anak atau keluarganya tapi itu menunjukkan rasa kecintaan yang berlebih terhadap keluarganya, hal ini karena istri menginginkan hal yang terbaik buat keluarganya. Masalah kecil atau besar bukanlah hal yang penting buat perempuan, poin pentingnya adalah bagaimana dia mengungkapkan masalah itu sendiri. Pada kenyataannya seorang istri tak ada maksud untuk mencari kesalahan terhadap segala sesuatu atau tak mau mengerti tentang banyak hal. akan tetapi kepekaan perempuan terhadap sesuatu yang membuat perempuan lebih mengedepankan perasaan dibandingkan logikanya, so menghadapi kecerewetan istri akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar? Sehingga ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

 Notes: "Hai Suamiku, jika aku cerewet (menurutmu) itu karena aku ingin yang terbaik buatmu, Hafiz dan keluarga kita... ^_^"

3 komentar:

  1. Allah SWT Berfirman:
    "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu." (QS. Al Hujuraat : 13)

    dari ayat diatas artinya Al-Quran menolak pandangan2 yang membedakan (lelaki dan perempuan) dengan menegaskan bahwa keduanya berasal dari satu jenis yang sama dan bahwa dari keduanya secara bersama-sama Tuhan mengembang biakkan keturunannya baik yang lelaki maupun yang perempuan.

    Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan, tidak ada dlm Islam mendiskriditkan wanita sebagai makhluk yg lebih rendah dibanding kaum pria, masing-masing punya tanggung jawab yang harus diembannya, tapi sayangnya masih banyak kaum wanita yg justru menuntut adanya emansipasi yang salah kaprah, emansipasi versi barat yang kalau ditelusuri justru banyak merugikan kaum wanita itu sendiri...

    kok jadi bicara masalah emansipasi segala sih...
    hehehehe...ini kalo diteruskan bisa panjang.

    pokoknya dua jempol buat mbak Tatie..

    BalasHapus
  2. saya jadi ingat celoteh ringan seorang sahabat saya yang istrinya cerewet banget.. hehe..

    saya pernah nanya ke dia.
    "menurutmu apa yang tidak bisa dimengerti atau dipahami di dunia ini.?

    jawab dia "semua hal didunia ini bisa dimengerti atau dipahami, cuma ada satu yg gak bisa dimengerti atau di pahami yaitu "WANITA".

    hehehehe.... saya cuma ketawa kecil2 denger jawaban dia. hihihihi

    BalasHapus
  3. @Mas Insan: saya setuju bangt bahwa emansipasi yang dituntut perempuan telah salah kaprah dan merugikan perempuan itu sendiri.. tapi saya tak hendak membicarakan emansipasi.. (mungkin suatu saat) hehe..

    terimakasih sudah berkunjung...

    @Bang ROe:hhahahha... dan bagi wanita "hanya ada satu hal yang tidak bisa dimengerti yaitu laki-laki" hihihi..
    terimakasih sudah berkunjung...

    BalasHapus

Yuukk di komen-komen yaa...