Laman

Ini Tentang Dunia Kita, Dunia Antara Kau dan Aku

Dengan asma sang kekasih

Kamis, 08 September 2011

Gembala

halo kerbau-kerbau, dimanakah gembalamu berteduh dengan serulingnya yang melegenda itu?

berapa banyak rumput yang kau makan sebagai santapan siangmu?

lihat..lihat.. kemarau menghabiskan rumput-rumput yang semula hijau, yang tersisa hanyalah keringnya rumput rumput yang membuatmu tersedak..

dimanakah gembalamu? tak kudengar angin mengirimkan alunan serulingnya nan merdu

aku rindu lagunya yang mendayu.. aku rindu lantunan nada yang dikirimkan angin ke telingaku.

dimanakah kini gembalamu berteduh dari teriknya siang? ataukah sengaja membiarkanmu berkeliaran di padang yang kering kerontang? 

8 komentar:

  1. saya baca postingannya, ngerti apa yg ditulis.. tapi sumpah bunda tie saya bingung apa maksudnya yah.? hehe... ada apa dengan gembala yg memainkan seruling.? ini semacam sarkasme kah.? :)

    BalasHapus
  2. dulu.. daerah ini adalah peternakan kerbau dan sapi, tapi sekarang yang tersisa hanya kerbau kerbau itu dan beberapa gelintir sapi..

    beberapa penggembala (sebenarnya siih lebih tepat disebut peternak) kerbau dan sapi itu bahkan merangkap pemiliknya, jadi bisa dibayangkan kesejahteraan mereka, tapi kini tak ada lagi gembala (peternak) di daerah ini.

    begitulah kira-kira maksudnya... :)

    berkaitan dengan gembala yang memainkan seruling itu hanya kiasan aja, soalnya ga lucu kan kalo saya bilang "peternak yang memainkan seruling"

    trims sudah berkunjung Bang ROe...

    BalasHapus
  3. emang daerah mana nih.? masih keliatan suasana alam yg sejuk.

    BalasHapus
  4. di dekat kampung saya, mungkin sekitar 25 km dari tempat saya lahir hihihi... Cianjur Selatan :)

    BalasHapus
  5. klo skg ja masih alami gitu, gmna dulunya yah, pas sapi2 dan kerbau2 tu tenar2nya. :D

    BalasHapus
  6. waah dulu 7 tahun yang lalu, tempat kami terisolasi, tidak ada hp, tdak ada lstrik.. sangat.. sangat.. alami.. :)

    BalasHapus
  7. dari tulisan ini sepertinya ada makna lain yg sedang membuat kegalauan mbak Tatie,

    gambaran suasana diatas merupakan warning bagi kita, akan bagaimana nasib generasi selanjutnya,kalau ini dibiarkan.

    untuk itu saya mengajak (khususnya diri sendiri) untuk mulai gemar menanam pohon, yang dimulai dari rumah sendiri dan lingkungan sekitar..

    BalasHapus
  8. @mas Insan: betul sekali.. kehidupan ini harus kita jaga, bukan hanya untuk diri kita sendiri tapi juga untuk generasi mendatang.

    saya setuju sekali.. mari kita menanam pohon (saya menanam mangga, sukun, nangka dan jambu di halaman rumah) #promosi.. hehehe

    BalasHapus

Yuukk di komen-komen yaa...