Laman

Ini Tentang Dunia Kita, Dunia Antara Kau dan Aku

Dengan asma sang kekasih

Selasa, 06 Januari 2015

Pangandaran



suasana pagi di Pantai Pangandaran

Pangandaran.  Destinasi  wisata ini merupakan salah satu yang menarik di Jawa Barat. Untuk mencapai Pangandaran hanya bisa dilakukan lewat darat, jarak tempuh dari Bandung ke Pangandaran sekitar kurang lebih 225 km atau sekitar 5 sampai 6 jam dengan bis. Sebelum tahun 2012 Pangandaran berada di wilayah Kabupaten Ciamis, akan tetapi sekarang telah menjadi Kabupaten tersendiri, dengan ibukota di Parigi. Pangandaran selalu identik dengan Susi Pudjiastuti, Menko Maritim.

Saya ke Pangandaran ikut rombongan tour yang diselenggarakan oleh Lingkungan Rw tempat teman saya tinggal, dengan biaya sebesar Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah), murah banget kan??. Saya penasaran dengan keindahan Pangandaran yang telah dikenal sejak saya kecil.



Kami berangkat dari Bandung sekitar jam 11 malam dan sampai di Pangandaran jam 5 pagi. Untuk saya yang tumbuh dan besar di daerah “pakidulan” (Cianjur Selatan) suasana Pangandaran ini tidak terlalu istimewa, serasa kembali ke Kampung halaman, pun ketika sampai di pantainya. Suasana pantainya tak berbeda jauh dengan di Kampung saya, hanya saja pantai disini ombaknya tidak terlalu besar, dan telah menjadi obyek pariwisata yang menarik, berbeda dengan pantai di kampung saya yang masih asri dan belum tersentuh pembangunan, entah kenapa pariwisata Cianjur Selatan tidak menarik minat pemerintah daerah untuk mengembangkannya, padahal jika dikembangkan potensi pariwisata di Cianjur Selatan sangat bagus (hanya berharap).

Mungkin karena suasana yang tidak terlalu menarik ini, yang membuat saya bosan. Saya hanya menikmati pantai seadanya wong tidak ada yang special, hanya memperhatikan anak saya yang asyik bermain ombak.
Sebagaimana daerah tujuan wisata, di pantai pangandaran ini banyak sekali penjual yang menawarkan dagangan, yang paling rame dan sering agak sedikit maksa adalah tukang asin. Asin-asin itu memang nampak menggiurkan, dan lumayan murah untuk oleh-oleh orang rumah J, namun berhubung saya tidak suka makan asin, saya hanya memperhatikan beberapa teman saya yang sibuk tawar menawar dengan tukang asin. Oh iya sekedar info saja, untuk yang mau beli asin, itu bisa ditawar dengan serendah-rendahnya dan konon kabarnya, dijamin katanya harganya lebih murah di banding di Pasar.

Pagi di pangadaran
Sekitar pukul 11.00 kami meninggalkan pantai dan berangkat ke Grand Canyon yang berada di Kecamatan Cijulang. Green Canyon atau penduduk setempat menamakannya Cukang Taneuh merupakan Objek wisata yang mengagumkan yang merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Semuanya itu membentuk seperti suatu lukisan alam yang begitu unik dan begitu menantang untuk dijelajahi.Untuk melihat keindahan green canyon kita bisa menyewa perahu dengan biaya sekitar 150 ribu per perahu dengan maksimal 6 orang, jadi untuk menghemat sebaiknya kita bersama rombongan. Di Green Canyon ini saya merasakan sensasi yang wow  banget.. aliran sungai yang biru, gemerisik bambu, suara burung, ditambah keindahan gua dan segarnya udara, membuat kita betah untuk berlama-lama.

Oh iya, jika anda ingin berenang atau berlama-lama di green canyon, anda bisa memanfaatkan tambahan waktu dengan biaya 100 ribu per jam. Si tukang perahu akan setia menunggu anda.
Berhubung waktu itu saya tidak bawa baju ganti dan waktu yang terbatas.. maka kita hanya menikmati aliran sungai dan green canyon selintas saja. Sebenarnya saya masih penasaran dengan keindahan gua nya, dan saya telah merencanakan untuk ke green canyon ke 2 kalinya sambil mengunjungi Pantai Batu Karas yang katanya tak kalah indahnya dengan Pantai Pandawa Bali.

Berhubung gambar di Cukang Taneuh-nya hilang (hiks..hiks..) jadi tidak bisa disaksikan keindahannya.

#late post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuukk di komen-komen yaa...